Sunday, December 03, 2006

Lansekap berwawasan lingkungan

Alhamdulillah, dengan perkenan Allah semata saya diundang oleh TAFE Global (suatu unit di bawah Department education and Training/DET New South Wales) untuk berkunjung ke Sydney. Kunjungan dalam rangka belajar atau study visit. Hari pertama adalah kesempatan bertemu dengan CEO dan para project manager di TAFE Global. Hari kedua Farida Fleming, Project Manager kami menemani saya mengunjungi Sydney Opera House, Botanical Garden, dan sejumlah tempat wisata lainnya. Hari ketiga, John Bladen yang adalah Technical Specialist kami, membawa saya ke Featherland. Di tempat ini kita bisa menyentuh kanguru, koala dan ragam jenis satwa Australia. John juga mengantarkan saya ke Blue Mountain yang terkenal dengan hutan nasionalnya. Dua hari rekreasi membuka mata saya bahwa sebagai salah satu negara maju yang 'cenderung dinilai oleh orang Indonesia sebagai kerap bertentangan' dengan sikap politik Indonesia ini, memiliki cukup banyak kemajuan maupun kebijakan yang patut dicontoh. Apartment yang saya tempati berlokasi di Manly, suatu kawasan yang cukup terkenal di Sydney. Apartment ini tepat berada di dekat pelabuhan feri, dimana orang bisa menggunakan feri untuk mencapai kawasan sekitar Opera House atau beberapa daerah perkantoran lainnya. Pantai yang berada tepat dimuka apartment saya sungguh sangat bersih. Tidak ada satu sampah pun saya lihat disana. Padahal sejak pagi begitu banyak orang menggunakan pantai ini untuk ragam kepentingan. Ada yang berjalan menuju pelabuhan, ada pula yang jogging, berjalan-jalan dengan binatang peliharannya, mengasuh anak atau bayi, atau hanya sekedar duduk untuk sarapan pagi dan minum kopi. Siang sampai malam, tak terhitung banyaknya orang yang melakukan aktivitas di sepanjang pantai itu. Tapi, lagi-lagi tak ditemukan satu pun sampah bertebaran. Daerah 'kota' Sydney sunguh unik. Farida mengatakan, yang ia senangi dari Sydney adalah 'perpaduan bangunan lama dengan bangunan baru' yang sungguh cantik. Farida benar. Selain gedung pencakar langit yang sangat kuat kesan modernnya, Sydney melestarikan cukup banyak bangunan lama. Bangunan yang terbuat dari batu (karena dinding asli adalah dinding batu) atau bebatuan seperti bata merah yang sangat keras, bersanding dengan bangunan baru yang modern. Bahkan ada satu hotel yang bernama the Blue Sydney, yang dulunya adalah tempat pemotongan dan pengolahan wool, tidak menghilangkan mesin-mesin yang menempel di dinding hotelnya. Unik dan sangat menarik. Saya teringat Surabaya. Ketika kami ada pertemuan nasional di kota pahlawan ini, pak Lutfi selaku 'tuan rumah' mengatakan: "Mohon maaf karena ketidakramahan kota ini. Mohon maaf karena disini orang sangat sulit menyeberang jalan". Betul apa yang dikatakan pak Lutfi. Betapa menakutkannya kalai kita perlu menyeberang di jalan-jalan di Surabaya. Banyak jalan besar tanpa zebra cross, tanpa jembatan penyeberangan (kalau pun ada, letaknya cukup jauh dan tinggi pula). Pengemudi di Surabaya pun tak peduli pada pejalan kaki. Rasanya hampir semua mobil tidak memperlambat jalan kendaraannya, walaupun mereka melihat ada yang sedang berusaha menyeberang jalan. Sungguh berbeda apa yang saya temukan di Sydney. Walaupun kendaraan tidak terlalu padat, dan kendaraan melaju dengan kecepatan yang sesuai dengan yang tertera pada rambu-rambu, tidak ada orang yang menyeberang jalan secara sembarangan. Di setiap persimpangan jalan, tersedia alat bantu untuk penyeberang jalan. Hanya dengan menekan tombol, orang akan memperoleh kesempatan untuk menyeberang jalan. Pengemudi kendaraanpun sangat menghormati penyeberang jalan. Di negara maju seperti Australia, kerap saya temukan kaum lansia berjalan sendiri walau harus menggunakan kursi roda, tongkat atau alat bantu lainnya. Tetapi, mereka tetap terjaga keamanannya, karena setiap pengemudi telah memiliki kesadaran dan kedisiplinan yang tinggi dalam berlalu lintas. Apa yang saya lihat di Blue Mountain, adalah sungguh mengagumkan. Hutan nasional ini merupakan salah satu obyek wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Saya melihat cukup banyak rombongan turis dari Jepang dan Korea, selain rombongan dari sejumlah negara di Eropa. Dengan menggunakan skylift atau juga kereta yang menggunakan rel, kita akan diturunkan di suatu area dimana kita dapat turun dan berjalan di tengah hutan. Yang menarik adalah bahwa mereka membuat semacam foot path (tempat berjalan) terbuat dari kayu, yang dibangun sekitar 2-3 meter di atas permukaan tanah. Semacam jembatan, yang memungkinkan pengunjung kerindangan dan keunikan hutan tanpa merusak permukaan tanah dan juga pepohonan diatasnya. Disana-sini terlihat papan informasi yang menjelaskan tentang jenis pepohonan, usianya dan keunikannya. Sungguh, kesadaran akan lingkungan yang tinggi ditunjukkan dengan penataan lansekap yang berwawasan lingkungan. Dua hari berwisata, cukuplah sudah. Keindahan alam maupun lansekap buatan manusia di kota ini, memang tak akan terlukiskan dengan kata-kata. Sebenarnya alam Indonesia pun indah, demikian juga kota-kotanya. Sayangnya, kesadaran akan lingkungan belumlah terbina. Bandung yang dulu dikenal sebagai Paris van Java pun sekarang ini dipenuhi dengan sampah. Sampah juga saya temukan di sekitar daerah Taman Hutan Nasional yang terletak di jalan Banda Aceh - Pidie. Dalam lima tahun ke depan, mungkin Taman Hutan Nasional pun akan terambah dan rusak. Alangkah sayangnya. Apa kabar arsitek dan dinas perkotaan kita ?

2 comments:

Lida Handayani said...

Tulisannya bagus. Udah naratif. Tapi, kok masih lupa dipenggal jadi banyak paragraf ya? Hehe...

abie said...

wah kapiheulaan euy,

hmm, sydney kapan ke sana ya ?